Suatu ketika di hari kebahagiaan sekaligus kesedihan saya (??hehe pas hari ulang tahun saya), tiba-tiba saya mendapat hadiah sebuah buku yang sangat menarik. Buku yang telah lama saya inginkan, dan dengan susah payah saya mencarinya, hingga akhirnya saya mendapatkannya dari seseorang yang tak pernah saya bayangkan. Entah bagaimana hadiah itu yang terlintas pada benak si pemberi yang baik hati (yang hingga sampai saat ini saya tidak tahu alasan pasti kenapa dia memberi saya hadiah, tapi toh orang tak perlu alasan khusus untuk memberi kan?), tapi yang saya tau, ”akhirnya buku yang saya inginkan itu menjadi kepunyaan saya”. (hehe mungkin sedikit egois). Tapi saya ga berani untuk bertanya lebih lanjut kepada si pemberi (hehe yang penting kan uda blng makasi)
Kembali ke topik, buku tersebut berjudul ”Hafalan Sholat Delisa” (ada yang pernah membacanya?atau minimal mengetahui sekilas?). Sebuah buku yang bagi saya cukup dengan sangat menginspirasi saya untuk berubah menjadi lebih baik. Saya merasa ”tertampar” (bukan dalam arti yang sebenarnya) oleh sosok utama dalam buku tersebut. Bagaimana bisa? Mungkin anda bertanya seperti itu, tapi entah kenapa saya merasakannya. Mungkin bagi anda yang pernah membacanya juga merasakan hal yang sama atau mungkin hanya berpikir,”itu hanya sebuah cerita”. Yaahh, sebuah kewajaran.
Dalam buku tersebut diceritakan bahwa ada seorang anak aceh (maaf sebut nama daerah) yang usianya masih kecil (parameter: usia saya, dan mungkin usia anda semua) dan sedang belajar bacaan sholat. Dia menghafal bacaan sholat yang bagi orang yang muslim yang lebih dewasa (hmm.. saya jg termasuk) adalah hal biasa yang selalu dibaca sehari-hari saat mendirikan sholat. Seorang anak yang menghafal bacaan sholat. Mungkin terdengar sangat sederhana dan tidak ada sesuatu yang membuat saya “tertampar”. Tapi begitulah yang saya rasakan. Anak tersebut (sebut saja Delisa,,bukan bunga lhoo) adalah anak bungsu yang tinggal di sebuah tempat di tepian pantai di sebuah daerah yang bernama Aceh. Ibunya (yang dipanggil umi oleh anak-anaknya) adalah seorang penjahit yang sekaligus merangkap sebagai seorang ibu rumah tangga (akan tetapi cukup menginspirasi saya untuk menjadi sosok ibu sepertinya) dan tinggal bersama anak-anak perempuannya (yaaa..delisa mempunyai 3 orang kakak perempuan yang bernama Fatimah, Zahra, dan Aisyah). Sedangkan sang ayah (bernama Abi Usman) bekerja di tanker perusahaan minyak internasional, yang hanya dapat “merapat” setiap tiga bulan (resiko bekerja offshore,tapi saya bermimpi untuk bisa merasakannya suatu hari nanti). Pada mulanya, Delisa menghafal bacaan sholat karena dia mendapat tugas menghafal dari guru di sekolahnya, selain itu dia ingin mendapatkan hadiah kalung dari sang bunda. Yaa…Umi memang selalu memberikan hadiah kalung untuk anak-anaknya yang dapat menghafal bacaan sholat. Ketiga kakak perempuan Delisa pun telah mendapatkannya. Akan tetapi, semakin hari, semakin mengertilah Delisa mengapa dia harus menghafal bacaan sholat itu. Dengan bersusah payah dia akhirnya berhasil menghafalkan bacaan sholatnya tepat pada saat ujian menghafal berlangsung. Hari yang bertepatan dengan adanya sebuah peristiwa yang tidak akan terlupakan bagi sejarah bangsa Indonesia, yaa..ujian menghafal tersebut berlangsung saat musibah tsunami melanda Aceh. Hingga saat saya membaca bagian ini, air mata saya sudah tumpah ruah, perasaan haru, sedih, bahagia (karena akhirnya Delisa sudah hafal). Saat Delisa maju dan mulai melakukan takbir, alam sudah mulai memperdengarkan tanda-tandanya. Gerakan demi gerakan sholat telah Delisa lalui, dan dia pun tak bergeming ketika sekelilingnya telah porak poranda. Dia tetap mendirikan sholatnya. Hingga saat dia hendak sujud, sujud sempurnanya untuk pertama kali (dan mungkin menjadi sesuatu yang tidak akan pernah dia lakukan lagi), tubuhnya terhempas dan lenyaplah keinginannya. Tsunami menghancurkan semua kebahagiaannya, tsunami memporak-porandakan daerah tersebut. Untungnya Delisa selamat, walaupun dia harus menelan kepahitan hidup. Salah satu kakinya di amputasi (Ya Alloh..bagaimana mungkin dia akan melakukan sujud sempurnanya?pada bagian ini, air mata saya sudah menghalangi pandangan saya untuk membaca)
Itulah sepenggal kisah tentang anak kecil yang masih polos yang sangat ingin memberikan sujud sempurnanya hanya karena-NYA.
Entahlah..mungkin saya tak begitu pandai meresume dan menggambarkan tentang buku ini, tapi saya merasa dengan yakin ingin merekomendasikannya bagi semua yang gemar membaca dan butuh motivasi untuk berubah menjadi lebih baik.
Yaaa…buku ini membuat saya sangat tertampar dan bertanya, ”Sudahkah saya melakukan sholat dengan niat ingin mempersembahkan sebuah sholat yang SEMPURNA untuk-NYA?” Dan ada satu hal lagi yang mengganjal dalam benak saya ketika saya mengakhiri membaca buku ini, benarkah apa yang tertulis dalam buku ini?atau ini hanyalah sebuah cerita motivasi? Jika cerita ini adalah BENAR, saya ingin sekali berjumpa dengan tokoh utama yang telah membuat saya merasa ”tertampar”. Adakah yang mengetahui apakah benar cerita dalam buku ini adalah kenyataan???