Cerita ini bermula pada suatu malam,tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2009, di sebuah rumah di daerah surakarta, dimana semua warganya sedang berkumpul di sebuah gang sempit dalam rangka tirakatan. Mari kita dengarkan kisahnya,
Seorang anak sedang menunggu kedatangan sang ayah dari bepergian keluar kota karna sebuah tugas kantor. Sang anak menunggu kedatangan sang ayah dengan cemas, karna sms terakhir yang diterima sang anak dari sang ayah adalah ayah mengambil pnenerbangan terakhir, yaitu jam 18.00. Menurut perkiraannya, sang ayah sudah tiba di bandara Adi soemarmo kira-kira pukul 19.00, tapi ternyata hingga pukul 20.00 sang ayah blum tiba juga. Kecemasan itu semakin terasa karna handphone sang ayah mati smua alias tidak dapat dihubungi. Padahal sang anak harus menghadiri acara malam tirakatan di kampungnya tersebut pukul 19.00. Akhirnya sang anak memutuskan untuk menghadiri acara tersebut terlebih dahulu, dia berpikiran,”halah..paling ntar ayah nelphon kalo g bawa kunci.”
Kira-kira sejam kemudian, dugaan sang anak benar, sang ayah menelepon dirinya. Anehnya,suara sang ayah terdengar cemas dan terburu-buru. Waduwh..da pa ni? (batin sang anak) brarti harus buru-buru pulang. Akhirnya setelah ijin sana sini, sang anak bergegas pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia mendapati ayahnya sibuk menelepon seseorang sambil berusaha membongkar-bongkar koper bawaannya. Begitu melihat sang anak datang, sang ayah langsung berkata dengan paniknya,”tulung bukakno pintu, ki koperq kethoke keijolan” (red: tolong bukain pintu, kayaknya koperq tertukar). Sambil bertanya-tanya (alias ngedumel gak jelas) sang anak membukakan pintu, setelah memasuki rumah, sang anak mencoba membuka kunci rahasia koper tersebut. Taaarrrraaaaaa……koper tersebut berhasil di buka (waaahhhh…sang anak pintar juga yaa??ato bakat terpendam jadi maling koper??auuww..). setelah dilihat ternyata emang benar, koper tersebut bukan milik sang ayah. Sebelumnya sang anak sudah curiga bahwa itu bukan koper sang ayah, karna koper tersebut terliat beda (menurutnya) dan ternyata benar (walah..dasar anak sok tau ni..hahaha).
Naahhh..setelah itu sang ayah berada dalam kepanikan tingkat tinggi, bagaimana tidak,,lha wong barang-barang penting untuk kantor (missal: cap, baju kotor..lhoh??g mungkin yaa..hehehe) dimasukkan dalam koper tersebut. Akhirnya sang ayah menghubungi bandara, tapi ternyata tidak ada yang mengangkat, lalu diputuskan untuk menunggu esok hari dan langsung pergi ke bandara lagi.
Tiba-tiba..Assalamualaikum..Pak, gmna kopernya?bener keliru pak? (lhaahh??bener kog kliru..piye toh wong iki??). Ternyata yang datang adalah teman kantor sang ayah yang menjadi tersangka (lhoh??),,yaa ternyata sang ayah tidak mengambil sendiri kopernya dari conveyor belt d bandara (hihihi kayak plajaran di tekkim,,hitung panjang conveyor..bla..bla..bla) melainkan diambilkan oleh temannya ini, dan sang ayah langsung percaya begitu aja tanpa ngecek ulang. Padahal ni, sebelum berangkat, sang ayah sudah repot-repot menandai koper dengan tali (warna emas ketip-ketip pula) di bagian pegangannya plus kertas tempelan warna putih yang gedhenya amit-amit dah. Waduwh..bapak-bapak jaman sekarang emang pelupa mungkin yaa..
Keesokan paginya di bandara…
Sang ayah menemui petugas bandara sambil menenteng koper temuannya tersebut, tak jauh dari sang ayah berjalan terlihat seorang bapak-bapak (kira-kira seumuran lah) berjalan menuju arah yang sama sambil menenteng koper yang berwujud sama. (coba bayangkan..bapak-bapak menenteng koper yang sama berjalan menuju tempat yang sama, dari arah yang berlawanan. Kayak ada kacanya gitu yaaaa..hahahaha)
Belum sampai tempat tujuannya, kedua bapak itu langsung tertawa dan langsung berkata, “salah koper ya pak?” (bersamaan pula..hahahahaha)
Ternyata benar, koper yang ditenteng sang bapak adalah koper milik sang ayah. Setelah mereka berkenalan, ternyata sang bapak itu,semalam, juga sedang pulang dari tugas kantor, dan koper tersebut diambilkan temannya dari conveyor belt bandara. Setelah dicek dirumah ternyata salah.
Waduhw….ternyata kejadian yang menimpa sang ayah merupakan cerita non fiktif dimana terdapat kesamaan cerita, tokoh dan tempat kejadian dengan sang bapak (halah..kyak tulisan diakhir pemutaran sinetron-sinetron aja).
Sang anak hanya bisa tertawa dan menggumam,”bapak-bapak jaman sekarang….ckckck..ampunilah!”
nek mbeto tenggok nggih mboten bakal kijolan bu ^_^
hehehe….beda ndiri soalnyaaa